Selasa, 13 Mei 2014

“Penerapan Sistem Pendidikan Finlandia Berbasis Pendidikan Karakter Menuju Indonesia Emas dan Bermartabat”

Masyarakat umumnya masih banyak yang tidak mengetahui mengenai sistem pendidikan terbaik yang ada di dunia yaitu negara Finlandia. Di Indonesia sistem pendidikan saat ini menggunakan kurikulum 2013 dengan konsep pendidikan karakter. Dalam pelaksanaannya guru akan mengajar dan mengarahkan siswa untuk bersikap santun, jujur dan mandiri dalam belajar maupun diluar pembelajaran. Pendidikan merupakan sebuah tiang yang sangat fundamental yang berperan penting dalam kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa untuk bisa hidup lebih layak dan bermartabat. Selaras dengan tujuan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa. Kita harus belajar mengenai sistem pendidikan yang baik dan terbukti berhasil mencetak sebuah generasi masa depan yang unggul dan mampu bersaing dalam kancah global. Belajar dari Finlandia Sebuah negara bernama Finlandia yang mempunyai Ibukota Helsinki ini, merupakan sebuah negara yang mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia. Sistem pendidikan yang baik membuat negara ini unggul dalam bidang pendidikan dibandingkan negara lain seperti Amerika Serikat, Korea, Inggris dan lain-lain. Sistem pendidikan yang baik di negara tersebut membuat gempar seluruh dunia dan membuat iri semua guru di seluruh dunia karena tingkat keberhasilannya yang tinggi dan dapat membuat siswa yang berprestasi secara keseluruhan, sehingga kesetaraan kualitas penidikan dan mutu sekolah-sekolah di sana hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hasil survei internasional yang komperhensif oleh Organization For Economic Cooperation and Development (OECD), 2003. Tes yang dikenal dengan nama PISA yang mengukur kemampuan siswa dalam bidang sains, membaca dan matematika. Kegiatan Belajar Mengajar yang Menyenangkan (Learning is Fun) Sistem pendidikan di Finlandia tidak menerapkan jam sekolah yang tinggi, seperti kebanyakan jam sekolah yang diterapkan di Indonesia. Mereka hanya belajar kurang lebih 5-6 Jam per-hari. Dengan materi-materi belajar yang ringan dan sedikit belajar kembali tentang sejarah-sejarah yang banyak dianggap sudah tidak penting lagi oleh masyarakat kita pada umumnya. Dalam sistem pendidikannya siswa diajak untuk berfikir dengan cara memecahkan masalah, melakukan obeservasi, dan mengali sendiri mengenai bahan-bahan materi pembelajaran yang ingin ia kuasai secara mendalam. Mereka diberi kebebasan untuk berimajinasi dan melukiskan pemikiran-pemikiran kritis mereka dalam bentuk tulisan. Dalam pembejaran di sekolah guru jarang sekali memberikan soal dan mberikan alternatif jawaban a, b, c, d dan e. Proses pembelajaran diamana siswa belajar bukan untuk menyilang sebuah jawaban yang benar dan tepat seperti yang banyak dilakukan oleh guru-guru kita saat ini. Mereka belajar dengan merangkai jawaban sesuai dengan pemahaman yang mereka dapatkan selama proses belajar. Siswa yang belajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan suasana belajar yang nyaman tidak banyak tuntutan-tuntutan yang mebebankan siswa. Selama proses pendidikan guru bertugas mendampingi siswa bukan untuk mendikte atau memberikan aturan-aturan yang justru malah membuat siswa merasa tidak nyaman dan tertekan. Siswa diperlakukan sama dan setiap siswa merupakan seorang anak dengan bakat yang unik, sehingga semua mata pelajaran dianggap sama baik dari bidang IPA, IPS, dan Seni. Timbul motivasi dalam diri siswa untuk mengembangkan bakat terbaik yang ia miliki dan tidak merasa malu apabila ia kurang menguasai suatu mata pelajaran, karena disini setiap siswa dipandang sebagai mahkluk dengan keunikannya tersendiri dan gurupun selalu memberi motivasi bahwa dibalik kekurangan terhadap suatu hal ada kelebihan dibidang lain yang tersembunyi yang masih bisa kita eksplor untuk menanamkan sifat percaya diri yang tinggi pada siswa. Pembelajaran yang rileks dan menyenangkan akan melahirkan spirit pembelajar sejati (learning oriented) bukan siswa hasil produk kurikulum nasional yang berbasis (score oriented) dimana nilai dilihat sebagai indikator kelulusan dan keberhasilan siswa . Guru Sebagai Ahli Pendidikan Untuk dapat mencetak sebuah siswa yang tidak hanya cerdas, kreatif, berkarakter, berkualitas dan mampu bersaing dalam kancah persaingan global, tidak terlepas dari peran seorang guru sebagai sosok pencetak generasi masa depan. Setiap guru yang mengajar dalam sebuah insitusi pendidikan haruslah mempunyai kualitas yang layak ditunjang dengan mengikuti pelatihan TOT (Training Of Trainer) secara berkesinambungan. Sehingga kualitas guru dapat terjaga serta gurupun dapat memperluas wawasan ilmu yang dimiliki sesuai zaman. Sebuah kata-kata bijak oleh John Dewey,“If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow”, Bermakna cara mengajar yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. Mengajarkan yang dimaksud adalah bahwa pada setiap zaman siswa harus diperlakukan berbeda dan sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Karena tantangan dari masa ke masa selalu mengalami perubahan dan tingkat kesulitan yang berbeda. Dengan metode belajar sama secara terus-menerus tanpa variasi mengajar hanya akan mencetak hasil belajar yang sama sedangkan persaingan di luar selalu berubah menjadi lebih sulit dibandingkan saat ini. Guru harus disiapkan bukan hanya untuk menjadi pengajar atau doktor, melainkan menjadi seorang ahli pendidikan. Guru yang baik tidak hanya mengajarkan siswa tentang materi pembelajaran namun juga harus menanamkan pentingnya jiwa kepemimpinan (leadership) dan kewirausahaan (entrepeneurship) agar bisa mandiri dimasa depan. Dalam pembelajaran guru di Finlandia mendorong siswa untuk bekerja secara independen dengan berusaha sendiri mencari bahan yang mereka butuhkan. Mengajarkan bahwa “Kita tidak bealajar apa-apa kalau hanya menuliskan apa yang dikatakan oleh guru”. Para guru di Finlandia juga menghindari kritik yang bersifat tidak membangun mental siswa. Dalam proses belajar sebuah kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah hal yang biasa, setiap siswa boleh melakukan kesalahan. Peran guru disini memberikan bimbingan dan remidial yang bertujuan untuk memperbaiki apa yang kurang maksimal dalam proses belajar. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang ideal sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam pembagian raport tidak terdapat rangking, hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa percaya diri dan bangga terhadap diri mereka masing-masing. Disini saya memaknai kutipan populer “The mediocre teacher tells, The good teacher explains, The superior teacher demonstrates, THE GREAT TEACHER INSPIRES!” oleh William Arthur Ward. Mengajarkan kita bahwa guru yang baik tidak hanya memberitahu, menjelaskan, dan mengajarkan tetapi juga menginspirasi. Disini seorang guru bukan hanya memberikan sekumpulan materi yang akan dipelajari siswa, tetapi mengajarkan siswanya untuk mampu melakukan suatu tindakan yang nyata dan berfikir kritis. Sehingga siswa dapat menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang kompetensi mereka nanti. Guru harus bisa memotivasi siswa untuk menanamkan rasa ingin tahu, rasa cinta belajar seumur hidupnya, mengembangkan kreativitas dan bakat yang mereka miliki, serta mengapresiasi karya siswa sebagai sebuah bentuk ekspresi yang patut untuk dieksplor dan dikembangkan. Sehingga dimasa mendatang guru tidak hanya melihat siswanya sebagai seorang followers dari perkermbangan zaman yang terjadi namun dapat menjadi inovator sebagai pembuat mode, pencetus teknologi dan ikut berperan dalam pembangunan dan pengerak kemajuan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar